HeuHeuHeu.. diawali dengan judul yang kurang ajar.. Maaf.. Maaf..
Ya, memang. Ini cerita tentang film Ketika Cinta Bertasbih. Sebuah film yang diberi predikat MEGAFILM PEMBANGUN JIWA. Sebuah film yang katanya “Dinanti Jutaan Penonton“. Sebuah film yang ‘siap mengguncang 8 negara‘.

Dulu ketika film ‘Ayat-Ayat Cinta’ muncul, daku membandingkan antara novel dan filmnya. Namun sekarang tidak, karena bagaimana pun kedua media tersebut berbeda. Biarlah demikian adanya.
Yang ingin daku komentari adalah filmnya dari sisi tetek bengek yang agak menggangguku ketika menontonnya di bioskop.
Pertama.
Pernahkah kalian melihat bulatan merah pada posternya? Tertulis, DIJAMIN MESIR ASLI! Ya, mungkin produsernya melihat celah promosi dari kelemahan film adaptasi novel Kang Abik sebelumnya (Ayat-Ayat Cinta) yang bercerita di Mesir tapi lokasi di India. Nampak bingung, seperti halnya tulisan ‘BUKAN FILM PORNO’ di film Virgin 2.
Kedua.
Ternyata, walau menonton di jaringan XXI, kualitas tata suara yang keluar tidak asyik. Entah kualitas audio dari film itu sendiri, entah kualitas perangkat yang ada di bioskop itu. Yang jelas suara yang keluar dari speaker menyakitkan telinga. Daku merasa lebih nyaman ketika membatasi pendengaranku dengan jari telunjuk yang menutup kedua telingaku.
Juga daku agak sedikit kecewa dengan ilustrasi musiknya. Menurutku tidak pas dengan gambar yang tampil. Contoh, musik padang pasir pembuka yang terlalu bersemangat dengan gambar pemandangan Mesir dan suara yang menegangkan ketika lamaran Furqon diterima. Nah, itu salah satunya mengapa film ini menjadi komedi.
Sekali lagi, entah memang dari kualitas film ataukah dari sisi jaringan bioskop XXI. Penyuntingan (editing) film terasa kasar, akh atau ini hanya perasaanku saja?
Ketiga.
Jika kalian suka akan hal yang rinci (detail), maka kalian akan menemukan bahwa taksi yang digunakan dari pasar berbeda (berganti bentuk) setelah mencapai gurun. Semula bentuk sedan dengan lekuk dari kaca belakang kemudian pintu bagasi ke bentuk hatchback yang kaca belakang menyatu dengan lampu dan pintu bagasi.
Kemudian, ketika Azzam bersiap-siap di rumah hendak meminta Ustad Mujab melamarkan seorang gadis, ia memakai ’singlet alias kaus kutang’. Namun setibanya di rumah Ustad, baju dalamnya berubah menjadi kaus oblong.
Keempat.
Ini masalah selera. Banyak adegan di film ini yang berlebihan alias lebay. Ada teriak yang memekik, derai air mata dan tawa yang nampak tidak alami. Mungkin sebagian orang merasa itu alami, sekali lagi, ini masalah selera. Yang jelas, ada iklan-iklan terselubung yang lebay. Mungkin sekarang hal tersebut menjadi tren di film Indonesia.
Kelima.
Sebagai yang sudah membaca, daku agak kurang sreg dengan penggambaran karakter dalam film ini. Hampir semua karakter digambarkan ‘terlalu gaya’ dan riasan wajah yang juga lebay.
Nampak jelas, bahwa produser film ini tidak mau mengalami hal yang sama dengan produser film Ayat-Ayat Cinta. Filmnya dibandingkan dengan novel dan kemudian dikritik habis-habisan. Hampir semua adegannya merupakan adaptasi langsung dari novel sehingga apa boleh buat, karena novelnya terbit dalam 2 buku, maka filmnya pun bersambung. To be continued..
Tapi cuplikan lanjutannya panjang!!
Tips:
- Nonton film ini jangan sendirian, ajak teman yang bisa berbagi kelucuan dan hal-hal yang lebay.
- Duduk paling belakang, jadi bisa tertawa, menangis atau berkomentar sesuai kebutuhan hati.
- Pastikan kantung kemih kosong sebelum menonton, 2 jam euy!
Dari semula daku sudah minta maaf, sekali lagi maaf ya kalau ada yang tersentuh hatinya.
Terus terang aja deh, karena film ini mengangkat “tema agamis”, jarang ada yg mau ngritik abis2an. Mungkin malah ada kekhawatiran bakalan dihujat balik ataupun hanya dgn komentar balasan “dari pada nonton film horor dan komedi seks nggak keruan”.
Tapi harus diakui, film ini masih agak jauh dari kata “bagus” dari segi teknis perfilman (walaupun aku jg cuma pengamat film amatiran), aku cuma bisa ngasih komentar “lumayanlah”.
O iya, ada komentar lain lg. fenomena jilbabers berduyun-duyun ke gedung bioskop terjadi lagi
kayaknya takut ketinggalan gosip terakhir kalau sampai pulang dr pengajian nggak bisa ikutan “membahas” film ini. hehehe 
yang terakhir, “mata anda jeli atau jelalatan sih, koq sampai kaos kutang malihrupa jd kaos oblong sampai diperatiin?”
no offence
Oleh: Ando-kun on Kamis, 18 Juni 2009
at 21:01
Tambahan:
Kalau liat fenomenanya jd inget film korea karya Kwak Jae-yong My Sassy Girl dan Winstruck.Dua2nya diperankan oleh Jeon Ji-hyun.
Coba Fedi Nuril ditampilkan numpang lewat diakhir film jd cameo kayak Cha Tae-hyun dlm Windstruck, khan bisa bikin ribut tuh wakakakak…..
Oleh: Ando-kun on Kamis, 18 Juni 2009
at 21:19
saya pernah nulis di reader’s talk Movie Monthly (M2), sebuah majalah film dengan judul “Menikmati Novel dan Film dengan Cara Berbeda”, di sana saya membahas bahwa sebuah adaptasi yang baik tak harus mengcopy-paste isi buku, melainkan menemukan inti cerita untuk kemudian membuang hal2 yang tidak perlu(memperlambat cerita). Di sana saya juga ungkapkan kekaguman saya pada Hanung+Salman+Ginantri yang berhasil mengguibah Novel Ayat2 Cinta menjadi Film Ayat2 Cinta …
Dan sempat menyinggung di akhir tulisan, dengan tulisan sbb :
“Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah ketika mendengar novel Ketika Cinta Bertasbih akan digarap film serupa novelnya, wah berapa jam durasi filmnya, mengingat novelnya terdiri atas dua jilid yang cukup tebal.
Semoga Chaerul Umam dan Imam Tantowi setelah membaca tulisan ini meniru jejak Hanung Bramantyo dan Salman Aristo yang berhasil menggubah novel Ayat-Ayat Cinta dengan sukses menjadi film Ayat-Ayat Cinta.”
Jadi ketika saya membaca beberapa review (di Bali film ini belum masuk), saya jadi ingat pada tulisan saya, ternyata Chaerul Umam tetap keukeuh untuk membuat novel sesuai aslinya (bahkan sempat baca di jawa pos rencana awalnya mau dibagi jadi 4 film, BUSSEEETTT, namun akhirnya hanya jadi 2).
Dan terus terang review ini kalau boleh saya kasih nilai 8 dari beberapa review yang saya baca … hehehe
Oleh: pande mahendra on Minggu, 21 Juni 2009
at 11:44
hehehe.. dah lame neee gak nonton
Oleh: KangBoed on Selasa, 23 Juni 2009
at 3:45