Oleh: K'ndie | Selasa, 3 Maret 2009

Perjalanan – 5 -

Tidak pernah aku sesali tentang Miko, malah seorang Miko adalah satu yang bisa menjadi segalanya buatku, kecuali menjadi ibuku tentunya karena bagaimana pun surga hanya ada di kaki ibu bukan di kaki orang lain.

Miko yang tiba-tiba bisa membahas laporan keuangan, Miko yang tiba-tiba hapal lagu Bon Jovi, Miko yang tiba-tiba suka sate padang padahal dia seorang Bandung anggota fakultas psikologi yang bersiul Incognito atau Al Jarreau.

——————————————

“Mba’ kalau kereta dua yang mana?”

“Setelah gerbong ini!” seorang kru kereta api menunjuk ke arah gerbong yang bertuliskan ‘Bisnis 1’. Kereta berangkat sekitar 15 menit lagi, hari panas seperti ini sebenarnya tidak cocok menunggu keberangkatan di dalam kereta itu sendiri, panas!

“7A… 7A… 7A… ini dia…”

A window seat! Baru sekali ini aku masuk kereta dan kali ini pula aku tahu bahwa ada huruf-huruf yang menunjukan kita duduk dekat jendela atau aisle seat, di sebelah gang. Begini toh rasanya kereta bisnis, jok hijau besar dengan kipas angin ukuran sedang berjejer memutar-mutarkan kepalanya di langit-langit gerbong, tapi tetap… PANAS!

Kukerahkan tenaga penuh sekarang, yang pertama tadi mungkin kurang tenaga. “Huf… wah.. masih nggak bisa”, aku kecewa, pengalaman pertamaku naik kereta mendapatkan jendela yang rusak, nggak bisa dibuka, sementara untuk mengerahkan tenaga ini saja keringat di keningku sudah sebesar biji jagung apalagi 3 jam kedepan, mungkin ini latihan sebelum aku menginjakkan kaki di Si Panas Jakarta.

“Kalau mau buka jendela, engkolnya yang di atas itu diputar!”

Bukan engkol yang diputar tapi kepalaku yang langsung berputar ke arah suara itu, sebuah wajah dengan senyum yang entah simpati atau sebenarnya mengejek berada tepat di belakangku.

5 detik aku tertegun, yang jelas bukan mengingat apakah aku kenal dengan manusia ini atau mencerna kata-kata dan senyumannya itu tapi yang jelas aku malu dan aku tak tahu warna apa yang ada di wajahku saat ini.

“Sini…!”

Aku mundur karena dengan tiba-tiba dia secara agresif mendekat seakan mau menyerang zona pribadiku. Kali kedua aku tertegun, sementara dia mengulurkan tangannya memutar engkol, aku mencium hawa tubuhnya yang kini hanya sekitar 10 cm dari hidungku, harum!

Jam 12 lewat 35 menit, berarti kereta masih mengumpulkan nafasnya sekitar 10 menit lagi sebelum dia mulai berlari meninggalkan Bandung menuju Sang Metropolis.

Dia kini duduk di sebelahku, ini nih pekerjaan biro hubungan PT. KAI yang suka menjodoh-jodohkan penumpang, walaupun terkadang kencan buta ini berhasil, malah mungkin ada yang sampai kawin. “Kok kereta belum jalan juga?”, terkejut aku melihat jam tanganku, 12.40, waktu yang demikian panjangnya aku lewati, “baru 5 menit?”

Aku tidak punya persiapan, mungkin hanya botol air mineral yang memang setiap hari kubawa, hanya itu. Pemandangan luar jendela pun bukan seperti pemandangan pesawat tapi orang berkeliaran, cat kusam, warteg dan wartel yang resmi keberadaannya di stasiun kereta ini.

Satu per satu penjual asongan resmi (pegawai KA) menawarkan asongannya, pertama yang ditawarkan adalah bantal. Gila! Hari panas seperti ini masih bisa tidur? Mending masuk Spa and Sauna di Dago yang jelas-jelas mau bantu mengeluarkan keringat tanpa bergerak. Yang kedua membawa baki yang berisi 3 piring nasi goreng di bagian depan dan gelas serta botol minuman ringan di bagian belakang baki itu. Jagoan juga ya, bawa baki seperti itu di kereta yang sedang berjalan, selama ini pujian hanya tertuju pada pelayan restoran Masakan Padang yang pandai menyusun piring-piring di tangannya.

“Es teh kang!”

Si akang langsung menyodorkan gelas berisi es teh manis kepadanya, dia memegang gelas itu dan langsung memutarkan badannya kearahku menyimpan es tehnya di meja kecil yang menempel ke dinding kereta, sepersekian detik aku merasa dia akan menyerang zona pribadiku lagi, tapi sekarang aku sulit untuk mundur, aku tersudut, seperti dia akan memelukku.

“Punten!” ia tersenyum.

Gosh…, it’s so sweet! Wajahku hangat.

“Eergh… aku juga mau donk.”

“Mau apa?”

“Es teh”

“Oh, kang hiji deui!” Satu lagi dan dia pun kemudian melakukan ritual yang sama untuk menyimpan gelas itu. Ah… entah aku memang ingin es teh itu atau aku ingin badannya mendekat sehingga harum itu bertambah dekat ke inderaku. Tapi saat ini aku sudah tidak terkejut dan aku bisa menikmati wajahnya yang selalu tersenyum.

“Gelasnya nggak akan jatuh khan?” …am I that stupid?

“Nggak…, udah dipikirin ama yang bikin kereta. Miko!”

“Nama yang bikin kereta Miko??” Jangan salahkan aku kalau tidak melihat tangannya yang menjulur ingin berjabat denganku, aku masih fokus pada gelas yang bergoyang menahan momentum-momentum hingga berkeringat, oh itu bukan keringat, itu embun karena pakai es!

“Bukan, nama yang di sebelah!”

Aku terperanjat tapi aku bisa lihat senyumannya lagi kali ini bersama tangannya yang siap melumpuhkan setiap syarafku.

“Vita!”

Lima detik kemudian aku masuk tersedot masuk pada obrolan tak berujung, yang ada hanya kerutan-kerutan di kening, pipi yang tertarik dan tanpa kusadari aku mengeluarkan seringai-seringaiku yang jelas manis tentunya, bukan seringai serigala saat bulan bulat penuh sambil mengintip anak-anak domba yang berkeliaran tanpa gembala.

Tante Dona minta aku datang ke Jakarta untuk acara syukuran, syukuran yang dirapel dari ulang tahun 3 orang, anaknya masuk PTN dan Om Fodha naik pangkat… Kolonel dia sekarang. Ayah ibu jelas terlalu cape untuk datang ke acara seperti itu jadi aku dipaksa, selain aku nggak pernah ke Jakarta sendirian pake angkutan umum, juga aku memang sudah lama nggak bersosialisasi sama sepupu-sepupu yang di Jakarta ini, Ditya dan Dana. Aku memberanikan diri.

“Wah, sudah di sini lagi…”

“Di mana memangnya?”

“Itu pager, Cipinang!”

“Kelurahan Cipinang?” keningku berkerut lagi

“Bukan… kecamatan! ha..ha..ha, Penjara neng!”

“Jadi udah deket?”

“Sebentar lagi Jatinegara, tambah 5 menit, Gambir. Kamu mau turun di mana?”

“Gambir…”

“Entar gimana, dijemput atau naik taksi?”

“Dijemput sama sepupu”

“Pulang kapan?”

“Besok sore, kenapa memang?”

“Bareng lagi yuk? Kita ambil yang jam setengah lima.”

“Nggak tahu… gimana besok aja!” aku lihat senyumannya berubah saat itu.

“Gini aja, kalau kamu mau bareng lagi besok, saya tunggu jam empat seperempat di deket loket, kalau kamu nggak ada, saya ngerti kok.”


Tanggapan

  1. no stories about any event in your life recently?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori