Oleh: K'ndie | Jumat, 27 Februari 2009

Jauh – 4 -

“Saya nggak bisa, Vit…!”

“Tapi aku khan udah janji kita bakalan dateng Ko!”

“Ya udah pergi aja!”

“Terus dengan siapa? Sendiri?”

“Minta anter sama siapa kek, kamu khan masih banyak temen cowok yang bisa kamu ajak ke kondangan!”

“Ya nggak bisa gitu dong Ko… masa aku dateng sama orang lain, entar gimana?”

“Nggak akan gimana-gimana…”

“Memangnya kenapa ga bisa??”

“Saya udah bikin janji… kenapa nggak bilang dulu? Kok bikin janji dateng ama saya tapi nggak tanya saya dulu!”

————————————————-

Jauh, mungkin kata itu terasa pas sekarang ketika kurasakan hubunganku dengan Miko. Dia masih suka datang sekali seminggu pada waktunya yakni malam minggu. Kedatangannya selalu kusambut dengan hangat dan dia pun datang dengan kehangatan yang selalu ia bawa bila hadir di ruang tamu ini walaupun sesekali ada perselisihan.

Hanya malam minggu, karena hari-hari setelah itu ia menghilang masuk kembali ke dalam rimba di mana dia menjadi rajanya. Aku mulai merasa tidak tahu apapun tentangnya, aku mulai rindu keluh kesah pekerjaannya, aku mulai rindu akan kisah konyol teman-teman nongkrongnya yang walaupun nggak lucu tapi aku masih bisa tertawa melihat ekspresi dia saat menuturkannya padaku.

Tak ada lagi genggaman tangannya yang begitu erat ketika kami menyeberang jalan. Tak ada lagi muka kusut yang menyambutku di tempat parkir. Aku memang tidak ingin selalu dijemput saat pulang dari kantor dan ia pun tidak mau harus selalu menjemputku, “Biar mandiri…” katanya. Tapi tetap aku berharap sesekali ia datang menjemputku.

Harapanku tak kunjung terwujud, aku sudah tak bisa lagi bertanya “Kamu hari ini kemana? Lagi di mana?” atau sekedar bertanya “Kamu sedang apa?” karena pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan menjadi sekedar pemicu pertengkaran atau sebenarnya bukan pertengkaran melainkan kemarahannya padaku. Dengan argumen ‘sudah tidak percaya lagi’, ‘nggak mau ngerti’ atau apapun itu ia akan menekanku dan akhirnya suatu masalah yang seakan tanpa akhir terus bermunculan. Lebih baik aku diam dan menunggu.

————————————————-

“Ko, pulang kerja mau kemana?”

Sudah pukul 3 sore, aku memberanikan diri untuk meneleponnya.

“Ga kemana-mana! Ada apa?”

“Kita jalan yuk, kita makan malem bareng… Kamu bisa jemput?” Aku gugup!

Aku tidak bisa mengingat kapan terakhir aku minta sesuatu darinya.

“Ehm… ada apa sih? Lama nggak?”

“Aku ada perlu, kayaknya nggak akan lama, bisa?”

Pembicaraan sebentar terhenti, entah kenapa aku mulai merasa resah dan tiba-tiba jantungku berdegup semakin kencang.

“Jam berapa jemput?” suaranya mengejutkanku

“eh, Jam 5-an… bisa yah?”

“Ya…”

“Makasih Ko!”

Telepon itu masih menempel di telingaku, terdiam dan aku menerawang.

————————————————-

“Mau kemana Vit? Tumben gini hari udah beres-beres…” dengan heran Fara melihat mejaku sudah rapih.

“Ada perlu mba’, aku jalan duluan yah!”

“Eh, Bon Jovi-nya jangan dimatiin dulu! Entar aja ta’ matiin”

“Oke!”

“Denger lagu ini kok jadi inget Miko yah?”

Aku terhenyak dan diam dalam sesaat, “Lagu ini…” pikiranku kembali menerawang jauh.

“Kenapa Vit?”

“Oh.. nggak… nggak apa-apa!” ucapku sedikit tegas.

Tiba-tiba dari belakang ada satu suara lagi yang mengejutkanku…

“Mba’ Vita ada tamu!” suara Pak Asep yang keras namun biasanya tak bisa mengagetkanku.

“Siapa pak?” aku merasa tiba-tiba suasana di ruangan ini seakan-akan menunggu jawaban Pak Asep, senyap…

“…Miko katanya mba’!”

“Minta tolong bilang saya lagi beres-beres, bisa pak?”

“Iya mba’…” Pak Asep segera hilang di balik pintu yang membatasi ruanganku dengan resepsionis.

“Tumben dijemput…”

“Janjian tadi siang mba’…” jawabku karena ternyata Fara masih berdiri di sampingku.

“Ooh… oleh-oleh ya Vit!”

“Iya mba’… do’ain ya mba’!”

“Do’ain soal apa??”

“Ya biar selamat sampai tujuan..” aku berusaha untuk sedikit mencairkan suasana, menghilangkan kerutan yang dari tadi menempel di kening Fara.

Sore yang indah, matahari yang mulai melangkah pulang hanya menyisakan kehangatan. Angin semilir menyapa diantara teduhnya pohon-pohon rindang yang menemaniku selama perjalanan dan Miko terdiam tanpa satu ucapan pun yang keluar dari bibirnya.

Aku sudah mengatakan tujuanku, ke mana kami akan pergi sore itu sebelum kami meninggalkan kantorku. Hingga itu mungkin menurutnya cukup dan tak perlu ada kata-kata lagi. Laju motornya nampak gugup dan kurang semangat, tak seperti dulu ia biasa membawaku dan majikannya ke mana pun kami mau. Biasanya ia membawa kami dengan semangat, di antara teman-temannya pun ia terkenal gesit dan lugas, entah ada apa dengan sore ini padahal aku belum berkata apa-apa selain yang aku katakan di telepon siang tadi.

“Kita makan dulu yah?”

Aku sudah selesai dapatkan yang aku butuhkan di sebuah supermarket di Dago. Tinggal satu hal lagi yang aku harus selesaikan hari ini dan hal inilah yang membuat hari ini terasa begitu panjang.

“Saya belum lapar, udah makan tadi jam 3”.

“Kalo gitu… kamu nemenin aku makan sambil ngopi, yah?”

“…He-eh… Sekarang kemana?” pertanyaan maupun jawabannya singkat tak ada obrolan lain sedikitpun.

“Ke atas… ke Pakar, tempat biasa…”

“Hmmm….”

————————————————-

“Mungkin memang seharusnya demikian..” jawabnya tanpa dapat kupastikan jawaban yang sebenarnya dari matanya. Jarinya memainkan cangkir kopi yang telah kosong.

“Maaf Ko..”

Angin yang sedari tadi bermain-main dengan rambutku tiba-tiba terasa kejam.

Tapi aku merasa sangat lega, dinginnya angin malam ini memang membuatku sedikit bergetar atau mungkin saja apa yang baru saja aku ucapkan membuat badan ini bergetar karena terus terang sebelumnya aku merasa tidak sanggup untuk mengutarakan keputusan yang seberat ini. Sekarang yang tersisa hanyalah hening.

Hari ku lalui
Tanpa hadirmu lagi
Kucoba ingkari
Sepi ini

Mengapa terjadi
Hancur kau akhiri
Satu kata janji
Tak kembali

Seribu tanya sesaki dada
Haruskah bimbang meraja
Lelah tepis harapanku
Sendiri mencari bayangmu

Kutunggu
Dirimu selalu
Kutunggu
Walaupun
Ku tahu kau Jauh..
Ku tahu kau Jauh..

Biarlah semua
Seperti apa adanya
Kuterus mencoba
Relakannya

Satu yang kuminta
Kembalilah pada-Nya
Kutahu disana
Ada Dia

Kutunggu
Dirimu selalu
Kutunggu
Walaupun
Ku tahu kau Jauh..
Ku tahu kau Jauh..

Seribu tanya sesaki dada
Haruskah bimbang meraja
Lelah tepis harapanku
Sendiri mencari bayangmu

Kutunggu
Dirimu selalu
Kutunggu
Walaupun
Ku tahu kau Jauh..

Kutunggu
Dirimu selalu
Kutunggu
Walaupun
Ku tahu kau Jauh..
Ku tahu kau Jauh..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori