Perusahaan tempatku bekerja bukan perusahaan besar yang berkantor di sebuah gedung bertingkat dengan ratusan karyawan, hanya sebuah perusahaan distributor alat berat walaupun memang berpredikat perusahaan multinasional yang memegang lisensi merek ternama dari Jepang.
Hari itu, pertama aku masuk kantor, aku mengikuti sebuah tour kecil berkeliling kantor dan berkenalan dengan hampir semua karyawan termasuk officeboy kecuali hanya beberapa saja yang kebetulan hari itu mereka lagi tugas luar, mungkin nanti sore aku bertemu mereka, kata manajer HRD, guide-ku. Hari itu pula aku bertemu Fara, Fara Azhra yang akan menjadi rekanku dalam melaksanakan tugas sebagai staf keuangan di perusahaan ini.
“Kamu kenapa Vit? Nggak enak badan? Kok kelihatannya muyung dari tadi siang?”
“Eh, nggak… nggak apa-apa…” aku sedikit terhentak dari kursiku, kaget, ternyata ada yang memperhatikanku.
“Ah yang bener? Kalau nggak apa-apa kenapa kaget gitu? Lagi ngelamunin pacar ya?” Fara asal menebak, tapi tebakan itu benar adanya.
“Bingung, mba’!”
“Bingung soal apa…? mau cerita? Khan mba’ juga ikut bingung kalau nggak tahu ceritanya.” Dengan raut muka yang ramah dan sangat dapat dipercaya, aku seperti menemukan kakak perempuan yang tak kupunya.
Hari telah menjelang petang, kebetulan pekerjaanku sudah beres dan atasanku sedang tidak berada di tempat sehingga aku dan Fara bisa asyik ngobrol menunggu jam kantor usai.
Aku bingung terhadap Miko, sejak 4 bulan yang lalu, sejak aku mulai masuk kerja. Pribadi yang hangat dalam dirinya seakan lenyap begitu saja, menguap entah kemana, mungkin menjadi awan dan terasa begitu jauh. Sekarang kami jarang sekali bertemu, yang tetap mungkin hanya Sabtu malam, itu pun terkadang Miko tidak dapat hadir menemaniku. “Cape, Vit…” dengan alasan siangnya dia harus ketemu banyak klien hingga dia seharian putar-putar kota atau berbagai alasan lainnya yang memang aku mengerti.
Kami berdua tenggelam oleh kesibukan yang kami buat sendiri, Miko bersama pekerjaan dan teman-teman kuliahnya yang membuatku berpikir bahwa mereka mungkin lebih dapat memberikan ketenangan baginya daripada aku yang selalu membuatnya resah. Pembicaraan kami akhir-akhir ini selalu tentang pekerjaan, bagaimana dia pusing dengan pekerjaannya, bagaimana aku dengan lingkungan kerjaku tapi yang membuatku bingung adalah sikapnya dalam mendengar cerita-ceritaku.
Setiap aku membicarakan suasana kantor, kerjaku dan segala macam di dalamnya tak dapat dipungkiri memang aku selalu bercerita dengan ceria, betapa senangnya aku dengan pekerjaan itu, rekan kerja yang begitu hidup, manajemen kantor yang baik dan tentunya hasil yang kudapat dari kerja itu cukup besar untuk memenuhi kebutuhanku yang selama ini aku idam-idamkan, dalam hal ini dapat kukatakan bahwa situasi dan kondisi pekerjaan kami berdua banyak perbedaan yang bertolak belakang.
“Aku bingung mba’!, kalau dia memang nggak nyaman sama kerjaannya aku sudah bilang coba pindah ke tempat lain, toh dia kerja sudah lebih dari setahun, bisa dong pengalamannya dijadikan bahan pertimbangan di perusahaan lain.”
“Bukan itu, Vit… gini.. denger dulu, sebenernya ini bukan hanya soal Miko, ini soal kalian berdua.”
Aku bertambah bingung dan mulai mencari kesalahanku.
“Salahku apa, mba’?”
“Nggak ada yang salah, cuman belum siap!”
“Belum siap? Soal apa?”
“Kalian mulai pacaran saat kalian belum kerja khan? Nah.. mungkin Miko belum puas pacaran, Miko mungkin belum siap buat nerima kamu untuk bekerja.”
“Dia sudah tahu kok mba’, bahwa sooner or later aku bakalan kerja”
“Dia itu laki-laki Vit…”
“Terus kalau dia laki-laki memangnya kenapa mba’?”
“Mereka itu sebenarnya perasa dan sekarang ketika dia jadi perasa malah kamu yang jadi cuek. Kamu sudah ngomongin soal nikah sama dia Vit?”
“Ehm, belum…”
“Kamu ada pikiran untuk nikah dengan dia?”
“Ya, kalau soal itu sih semuanya terserah Allah!”
“Kalau dia gimana?”
“Dia sih memang pernah bilang, setiap hubungan dia pasti serius. Dia dari pertama nggak nyari pacar, dia selalu nyari calon istri! Walaupun tetap semua tergantung pada jodohnya.”
“Kamu ngedenger itu tanggapan kamu sendiri gimana Vit?”
“Nggak tahu mba’… aku belum yakin, aku baru lulus, baru kerja… sekarang aku ingin nikmatin ini.”
“Oh, gitu…”
“Kamu pernah bilang soal ini sama Miko?”
“Belum… eh… perasaan pernah deh…”
Segalanya memang tidak pernah jelas, apakah itu hitam atau putih, mungkin semua masih abu-abu. Yang jelas aku memang jujur pada Fara bahwa aku belum yakin untuk mengambil keputusan bahwa Miko adalah yang terakhir, Miko adalah sekarang dan semua tergantung keputusan Sang Pencipta.
Terkadang aku masih miris kalau denger cewek lain punya target nikah nggak boleh lebih dari umur sekian, memasang target boleh kalau target itu hanya bergantung kepada kemampuan kita sendiri, kalau ternyata tujuan tersebut bukan hanya kita sendiri yang bisa merealisasikannya tapi bergantung pula pada lawan main kita apakah kita harus memaksakannya? Dan jika target itu tidak terpenuhi pada waktunya, apakah seketika hidup kita akan kacau balau dan hilang maknanya?
Aku punya pengharapan untuk menikah kelak, entah kapan, yang jelas aku ingin menikah, menjalani rumah tangga, mempunyai anak dan hidup seperti kebanyakan orang. Aku ingin menikah untuk membuatku tentram, untuk menjadi bahagia bersama lelaki yang memang jodohku. Aku tidak mau gara-gara target yang kutetapkan, aku tidak fokus hingga akhirnya memaksakan kehendak yang belum tentu merupakan hal yang terbaik untuk kedua belah pihak. Aku yakin tidak ada yang salah dengan itu.
ga ada lagunya?
Oleh: irma on Kamis, 26 Februari 2009
at 14:14