“Ko, tadi kok nggak jemput? Katanya sore ini nggak akan kemana-mana…”
“Khan sudah saya bilang, jika kamu tidak minta saya untuk menjemput kamu, saya tidak akan menjemput!” Bahasa Indonesia yang sangat baku dengan ejaan yang jelas terdengar tegas diucapkan di seberang tangkai telepon yang saat ini aku genggam.
“Oh iya, maaf… Ko, udah dulu yah… belum mandi nih”
Tidak terdengar jawaban, yang aku dengar hanya suara ‘klik’ dan sesaat kemudian nada telepon yang terputus mengiringinya.
Aku bingung, mungkin memang aku yang terlalu merajuk atau mungkin dia yang sedang ada masalah di kantor atau mungkin karena dia memang telah mengingatkan aku berkali-kali soal antar-jemput ke kantor itu, aku tak tahu.
Umur hubungan kami dua setengah tahun ketika aku lulus kuliah dan sebulan kemudian sebuah perusahaan yang aku kirimi lamaran pekerjaan menghubungi kemudian selanjutnya proses penerimaan pegawai yang bertele-tele dan akhirnya menerimaku sebagai salah seorang staf keuangannya.
Miko telah lebih dulu bekerja, dia lebih lebih dulu lulus saat aku masih di tingkat 3. Sekarang dia bekerja sebagai agen asuransi di sebuah perusahaan swasta kurang lebih 1 tahun.
Semenjak dia masuk kantor aku sudah mulai merasa kesepian, waktu dia untuk menemani mengerjakan tugasku berkurang, tidak ada teman berdebat lagi walaupun dia kadang-kadang masih datang ke rumah selepas bekerja, tapi tentunya dengan keadaan letih dan aku tidak tega untuk membebaninya dengan masalah-masalah yang tiada pernah ada habisnya. Dalam seminggu mungkin hanya 2-3 kali kami bertemu.
————————————————————–
Jubah wisuda itu belum lagi aku tanggalkan ketika suara yang berat itu terdengar dengan jelas.
“Kamu mau kerja, Vit…? Kapan…?”
“Iya dong, masa udah kuliah cape-cape terus nggak kepake?” ucapku masih dalam semangat anak kuliah yang baru diwisuda, aku tidak menyadari sejak sebulan yang lalu perangai Miko tak seperti biasanya sebagai seorang yang selalu berusaha menampilkan senyumannya di manapun ia berada.
Aku terlalu sibuk menyelesaikan skripsiku, aku terlalu sibuk melobi dosen-dosen dan meminta bimbingan dosen waliku agar sidang sarjanaku lancar. Aku terlalu sibuk melihat acara wisuda di benakku, sibuk menyelesaikan administrasi kelulusanku, sibuk mencari penjahit untuk pakaian kebesaran yang akan kugunakan di hajat besar itu, aku terlalu sibuk saat itu untuk hanya memperhatikan hilangnya senyuman di wajah Miko. Aku terlalu sibuk dengan semua kegembiraanku, apakah aku salah?
————————————————————–
Aku sudah menghabiskan minumanku, sedangkan gelas di hadapan Miko masih terisi tiga-perempatnya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam berarti sudah dua jam Miko berada di sini dan hampir selama itu pula aku menyuguhkan minuman itu.
“Kapan kamu mulai masuk Vit?”
“Senin besok…”
Sudah hampir 10 menit, dia hanya menanyakan satu hal yang sederhana kemudian sisanya diam. Rokok yang menyala itu terus berputar di jarinya, kadang hanya berputar di antara telunjuk dan ibu jarinya tapi terkadang rokok itu berputar di sela-sela jari lainnya tanpa dihisap.
“Kenapa sih Ko? Kelihatannya kamu nggak seneng aku kerja, iya Ko?”
“….”
“Ko, kamu nggak mau aku kerja? Kenapa Ko?… Jawab dong Ko!…”
“Nggak… semuanya kok kerasa cepet yah? Perasaan baru kemaren ketemu kamu, mahasiswi yang centil, eh.. tahu-tahu sekarang udah mau masuk kerja lagi. Saya nggak apa-apa.., beneran, saya nggak apa-apa kok!”
“Terus kenapa dong, kamu kayaknya resah banget?”
“Resah gimana?”
“Pokoknya nggak kayak biasanya!”
“Oh… kerjaan… biasa, pusing mikirin urusan di kantor nggak kelar-kelar”
“Nanti aku juga gitu lho…” senyuman mengembang di mukaku, “aku nanti tahu, gimana rasanya pusing mikirin urusan kantor…” aku sedikit tertawa kecil
“Saya pulang yah? udah malem!” ada sedikit senyuman di wajahnya, yang dapat aku lihat senyum itu ada karena dipaksakan untuk hadir.
“Senin bisa anter Ko?”
“Hmm.. Nggak bisa, ada janji sama klien..”
“Oh.. Ya udah, doain aja ya Ko…”
“Yah…”