Oleh: K'ndie | Rabu, 14 Mei 2008

Foto Pra-Wedding alias “Pre-wedding” Photography..

date of origin: 10 Mei ‘08

Dari tulisannya saja bisa dikatakan bahwa subjek ini rancu. Karena “Pra” adalah bahasa Indonesia (serapan) dan “Wedding” adalah bahasa Inggris. Sementara setelah mencari kata “Pre-wedding” di kamus net gratisan ternyata istilah “Pre-wedding” itu tidak populer dan tidak terdapat pada kamus itu.

Tapi siapa kalian yang peduli akan kerancuan subjek ini? *sambil tetap mencoba mempopulerkan EYD*

Kalau dilihat, foto pra-wedding ini hanya sekedar untuk keperluan dekorasi. Tidak lebih! Dari semua undangan yang telah daku hadiri, tidak ada satu pun yang dianggap foto pra-wedding ini sesuai dengan tema ataupun judulnya “Foto Pra-Wedding”.. Yang ada hanyalah waktu pengambilan foto ini memang dilakukan sebelum acara pernikahan. Tak heran beberapa temanku diprotes oleh orang tuanya yang menganggap foto-foto itu terlalu vulgar untuk ditampilkan sebelum pernikahan (secara adat ketimuran).

Untuk keperluan dekorasi, foto pra-wedding terbilang mahal dan sayangnya dengan harga semahal itu dampak yang dihasilkan tidak besar. Berbeda dengan hiasan bunga, jika anggaran untuk foto pra-wedding dialihkan ke dekorasi bunga, tentunya ruangan tempat resepsi akan sangat ceria dengan warna-warninya atau dialihkan ke makanan maupun ke modal kerja/usaha ketika berumah tangga.

O ya.. sama seperti riasan, semakin mahal/bagus foto pra-wedding yang mendapat nilai bukanlah pengantin atau penyelenggara acara, melainkan si juru foto (dalam hal riasan tentunya perias). Senangnyaaa.. sudah dibayar mahal, dapat promosi gratis pula. Sungguh pemasaran yang menyenangkan!

Ini opini pribadi, mau mengangguk-angguk silahkan, mau menggeleng-geleng silahkan!

Foto pra-nikah sebaiknya bertemakan ‘perjalanan’ pengantin menuju ke jenjang pernikahan. Foto tersebut menceritakan bagaimana kedua merpati ini bertemu, berkenalan dan proses yang akhirnya mereka berdua sepakat untuk mengikat janji di depan penghulu. Memang untuk hal ini dokumentasi sangat susah, mengingat banyak hal yang tidak diduga dan tidak dapat didokumentasikan (kalau ada dokumentasinya, dikau adalah juara narsis sedunia :-P ). Namun, apa salahnya dengan reka ulang untuk keperluan foto pra-nikah? Hal ini bisa memunculkan kembali kenangan-kenangan yang memang pantas untuk dikenang. Foto-foto yang daku maksud pasti tidak akan memancing protes dari siapa pun.

Misal:

Hubungan jarak jauh, Bandung – Jakarta, contoh foto: si cowok lagi naek/turun kereta/bis, si cewek lagi nunggu di peron/ruang tunggu. Si cewek lagi menelefon di tempat tidur (dengan pakaian sopan loohh! Bukan adegan ranjang!), si cowok lagi ditelefon di teras rumah dan beberapa tema dan contoh foto lainnya. Foto-foto itu ditampilkan per tema/adegan dalam satu bingkai dengan sedikit sentuhan sunting (edit-retouch). Nah.. khan tentunya foto-foto itu lebih berkesan sebagai dekorasi tempat acara dan yang kemudian bisa lebih bermakna sebagai dekorasi rumah maupun sebagai memorabilia di album foto.

Balik lagi ke foto pra-wedding..

Daku lebih setuju konsep foto pra-wedding yang ada sekarang ini dirubah paradigmanya sebagai foto pasca acara pernikahan. Sepupuku -warga Singapura dan daku beranggapan bahwa semua warga Singapura- telah melakukan hal ini. Setelah pernikahannya mereka menjalani sesi foto yang untuk memorabilia dan dekorasi rumah ditambah (mungkin nanti) dengan foto-foto bulan madu mereka yang tentunya tidak akan memancing protes (kecuali terlalu vulgar) bila dilihat oleh keluarga, toh mereka sudah menikah (ketika foto diambil).

Heran, mengapa si juru foto tidak menawarkan paket ini? Dan heran juga, mengapa pengantin justru tidak tertarik berfoto setelah acara pernikahan?

Mungkin uang mereka sudah habis.. bis.. bissss…

Selama ini daku melihat foto pernikahan hanyalah foto di pelaminan, foto di kamar pengantin dan foto di ranjang (jangan ngeres yah!) pengantin. Sungguh indah untuk menjadi memorabilia dan dekorasi seandainya foto-foto setelah acara pernikahan itu ada diabadikan dengan latar luar ruangan yang eksotis dan juru foto yang profesional.

- Tulisan ini merupakan bagian dari kampanye “Jangan Bugil Depan Kamera, Jangan Merusak Nama Bangsa!” -


Tanggapan

  1. “” Hubungan jarak jauh, Bandung – Jakarta, contoh foto: si cowok lagi naek/turun kereta/bis, si cewek lagi nunggu di peron/ruang tunggu. Si cewek lagi menelefon di tempat tidur (dengan pakaian sopan loohh! Bukan adegan ranjang!), si cowok lagi ditelefon di teras rumah dan beberapa tema dan contoh foto lainnya “”

    >>> ehem ehem

  2. contoh Imong.. contoh!

  3. huehuehuehuehuehuehuehue

  4. Masalahnya, untuk menciptakan momen-momen tersebut membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, sedangkan biasanya pengantin sudah disibukkan dengan detail acara dan kelengkapan untuk wedding nantinya.
    Belum lagi biasanya di saat-saat mendekati wedding day semakin banyak cobaan untuk pengantin, bukan cobaan yg gimana lho.. Hanya saja dengan komunikasi yg baik antara 2 keluarga saja terkadang masih ada timbul miss understanding dalam hal komunikasi, yg jika tidak disikapi dengan baik bisa menjadi petaka :>.
    Setiap pengantin tentunya menginginkan hal tsb tapi mungkin banyak hal jg yg mereka harus perhitungkan, kalau saja ada paket yg bagus dg harga yg tidak terlalu mahal tentunya, pasti banyak pengantin yang suka. Harga photo studio dibanding dg outdoor beda jauh itu pula yg menjadi salah satu pertimbangannya belum lagi dengan biaya desainnya yang biasanya terpisah… so bisa diperkirakan sendiri berapa biaya yg dibutuhkan hanya untuk dokumentasi :>.

    Smoga ada photo studio yang menawarkan paket photo dg format seperti di atas dg harga yg hemat, pasti membahagiakan sekali untuk calon pengantin.

  5. gambare mana……?

    klo cuma ngomong mah bnyak

  6. Bentar Om.. masterpiecenya lagi dibuat!

  7. he.. he… buat tambah2 tambah referensi…..

    makasih sob

  8. K’ndie says:
    Selasa, 29 Juli 2008 pukul 20:59
    Bentar Om.. masterpiecenya lagi dibuat!

    >>>> will be posted within this year?? *wink* hihiihihihi

  9. mana gambarna…euy tong lila teuing nyieuna

  10. Urang mah jadi lieur kieu euy..
    Ntos ari pose mah Kang.. tapi da potograperna sibuk wae ateuh.. momen teh kaliwatan wae, heuheuheu..

    Sigana mah moal aya poto Kang.. hampura..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori