Oleh: K'ndie | Selasa, 13 Mei 2008

Lalu-Lintas Yang Bodoh..

date of origin: 07 April ‘08

Kemarin (06/04) pengen mencak-mencak tapi bingung ama siapa. Pulang dari Garut ngopi dulu di rumah Denis (Arcamanik), dia dan istrinya hendak ke Cianjur, sekalian daku pulang daku anter mereka ke Terminal Bis Leuwi Panjang (Bandung).

17.06 WIB Denis dan istrinya turun di depan terminal.

Minggu sore itu sebenernya enak kalau jalan-jalan, nggak macet nggak panas apalagi saat itu habis hujan. Kecuali di perempatan Soekarno-Hatta – Kopo, angkot-angkot itu tetep membuat antrian yang sangat panjang, tapi nggak ngaruh, daku tetep bisa melewatinya dengan lancar. Ibuku menitip untuk dibelikan Sirup Emulsi untuk ponakanku yang di Cimahi, daku tenang aja, nanti juga di Cibeureum ada. Tapi apa dinyana.. Cibeureum di permulaan memang lancar, mendadak di daerah Kebon Kopi terjadi kemacetan.

Macet Bo!

17.17 WIB Daku terkena macet, lajur ke arah Cimahi menjadi 4.

Daku pikir “Wah harus ada yang istimewa nieh..” karena 500 m di muka ada jalan layang, kalau tidak ada yang istimewa seperti kecelakaan atau demo yang membuat mobil harus berhenti maka tidak boleh macet. Dalam 5 menit daku maju hanya 5 meter.

18.00 WIB Adzan Maghrib berkumandang dari radio.

Posisi tidak terlalu menguntungkan, dijepit truk ‘tronton’ sebelah kanan, angkot-angkot sebelah kiri.

18.50 WIB Akhirnya.. setelah lebih dari 1,5 jam.

Daku lolos.. setelah lutut kiriku pegal karena injak-injak kopling, setelah geram pada motor-motor yang merasa menjadi raja jalanan, setelah marah-marah tanpa suara pada angkot-angkot jahanam itu yang merasa kesempatan dalam setiap kesempitan adalah peluang.

Murkaku sampai ke ubun-ubun.. karena ternyata tidak ada yang istimewa. Entah apa awalnya, tapi ternyata kemacetan hanya dikarenakan lalu-lintas yang bodoh. Di ujung kemacetan ternyata arus yang menuju Bandung ada 6 lajur! Jadi seperti bentuk persegi panjang yang dipotong secara diagonal, arah Cimahi dari 4 lajur harus menjadi 1 lajur dan arah Bandung lebih parah, dari 6 lajur menjadi 1 lajur.


Sungguh memang lalu-lintas yang bodoh. Lalu siapa yang harus disalahkan?


Tanggapan

  1. salahkan rumput yang bergoyang…

    *hariyanggapentingjadikomentargapentingjuga*

  2. *komentargapentingjadingebalesnyajugagapenting*

    sebenernya ingin protes, tapi rumput juga nggak nanggepin.

    Lalu lintas kota-kota besar di Indonesia semakin bodoh.
    Macet nggak jelas, rame-rame ngelanggar aturan, nggak mau ngurus SIM/STNK lewat jalur resmi, polusi makin merajalela.. dan tiba-tiba semua terjebak pada istilah “tua di jalan”.

    Sungguh.. Lalu lintas yang bodoh!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori