Tidak pernah aku sesali tentang Miko, malah seorang Miko adalah satu yang bisa menjadi segalanya buatku, kecuali menjadi ibuku tentunya karena bagaimana pun surga hanya ada di kaki ibu bukan di kaki orang lain.
Miko yang tiba-tiba bisa membahas laporan keuangan, Miko yang tiba-tiba hapal lagu Bon Jovi, Miko yang tiba-tiba suka sate padang padahal dia seorang Bandung anggota fakultas psikologi yang bersiul Incognito atau Al Jarreau.
——————————————
“Mba’ kalau kereta dua yang mana?”
“Setelah gerbong ini!” seorang kru kereta api menunjuk ke arah gerbong yang bertuliskan ‘Bisnis 1’. Kereta berangkat sekitar 15 menit lagi, hari panas seperti ini sebenarnya tidak cocok menunggu keberangkatan di dalam kereta itu sendiri, panas!
“7A… 7A… 7A… ini dia…”
A window seat! Baru sekali ini aku masuk kereta dan kali ini pula aku tahu bahwa ada huruf-huruf yang menunjukan kita duduk dekat jendela atau aisle seat, di sebelah gang. Begini toh rasanya kereta bisnis, jok hijau besar dengan kipas angin ukuran sedang berjejer memutar-mutarkan kepalanya di langit-langit gerbong, tapi tetap… PANAS!
Kukerahkan tenaga penuh sekarang, yang pertama tadi mungkin kurang tenaga. “Huf… wah.. masih nggak bisa”, aku kecewa, pengalaman pertamaku naik kereta mendapatkan jendela yang rusak, nggak bisa dibuka, sementara untuk mengerahkan tenaga ini saja keringat di keningku sudah sebesar biji jagung apalagi 3 jam kedepan, mungkin ini latihan sebelum aku menginjakkan kaki di Si Panas Jakarta.
“Kalau mau buka jendela, engkolnya yang di atas itu diputar!”
Bukan engkol yang diputar tapi kepalaku yang langsung berputar ke arah suara itu, sebuah wajah dengan senyum yang entah simpati atau sebenarnya mengejek berada tepat di belakangku.
5 detik aku tertegun, yang jelas bukan mengingat apakah aku kenal dengan manusia ini atau mencerna kata-kata dan senyumannya itu tapi yang jelas aku malu dan aku tak tahu warna apa yang ada di wajahku saat ini.
“Sini…!”
Aku mundur..