HeuHeuHeu.. diawali dengan judul yang kurang ajar.. Maaf.. Maaf..

Ya, memang. Ini cerita tentang film Ketika Cinta Bertasbih. Sebuah film yang diberi predikat MEGAFILM PEMBANGUN JIWA. Sebuah film yang  katanya “Dinanti Jutaan Penonton“. Sebuah film yang ‘siap mengguncang 8 negara‘.

KCB

Dulu ketika film ‘Ayat-Ayat Cinta’ muncul, daku membandingkan antara novel dan filmnya. Namun sekarang tidak, karena bagaimana pun kedua media tersebut berbeda. Biarlah demikian adanya.

Yang ingin daku komentari adalah filmnya dari sisi tetek bengek yang agak menggangguku ketika menontonnya di bioskop.

Apa saja tetek bengek itu? Klik di sini..

“..Naik kereta api, tut tut tut.. Siapa hendak turut?..
Ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma..
Ayo kawanku cepat naik.. Keretaku tak berhenti lama..”

naik-kereta-api#1

Sebenarnya tidak terlalu lama semenjak terakhir kali daku memakai moda transportasi kereta api untuk bepergian terutama dari Bandung ke Jakarta. Ketika ada kesempatan, daku menyempatkan untuk menggunakan moda transportasi ini agar menambah pengalaman dan cerita.

Memang sudah lama moda transportasi itu sedikit terlupakan . Karena biar dikata semenjak berdirinya Republik ini sudah ada, namun tetap saja dia tidak lebih cepat dan lebih baik dari sebelumnya. Sungguh malang memang, terlebih semenjak adanya tol Cipularang.

Perjalanan Bandung – Jakarta sebenarnya nampak menyenangkan memakai kereta api, namun tetap saja ada kelemahan tentang jadwal yang kadang masih kacau dengan segala alasannya dan waktu yang  relatif lebih lama dari moda transportasi yang lain.

naik-kereta-api#2

“Terima kasih untuk memakai layanan kereta api. Mohon maaf akan pelayanan yang kurang memuaskan.. (suara di pengeras suara ketika hendak berangkat dan tiba)”

Bonus:


Satu Lagi!

Originally uploaded by Zulphiandie

“Akhirnya..!” hanya itu yang daku bisa katakan setelah bertahun-tahun. KLA Project tampil kembali dengan formasi lama dan daku yang mengaku sebagai penggemarnya (fans) dapat menonton konser mereka untuk pertama kalinya. Memang agak memalukan untuk mengaku sebagai fans, tapi biarlah daripada tidak sama sekali.

Daku mengambil kesempatan untuk menonton konser yang di Bandung. Sebenarnya bukan Bandung tapi Padalarang, di sebuah ‘alun-alun’ Kota Baru Parahyangan yang bernama Bale Pare, sekitar 30 km dari pusat Kota Bandung.

Setelah habis pulsa untuk telepon sana-sini, sms sini-sana akhirnya kami berangkat satu rombongan dengan 6 anggota. Daku, temanku Lovi, Ivonne dan Irma serta satu pasutri, abangku dan istrinya.

Kami tiba bisa dikatakan terlambat karena ternyata layout pertunjukan berbeda dari hari biasa. Panggung permanen yang ada ternyata tidak digunakan. Panitia memasang lagi panggung sehingga ruang terbuka semakin kecil, mungkin ini dimaksud agar penonton terlihat padat. Meja-meja ditata sedemikian rupa sehingga semua penonton diharapkan duduk, tidak ada ‘kelas festival’ dan kami sudah kehabisan meja.

Namun ternyata si ontohod, konser tak kunjung mulai.. MC ngabaceoh serasa tanpa akhir membagikan hadiah sponsor, memberikan kuis-kuis seputar KLA dan akhirnya mencari kebodohan-kebodohan yang ada di penonton.. dan dengan sangat terasa, 1 jam berlalu.

KLA Project Returns..

Tidak pernah aku sesali tentang Miko, malah seorang Miko adalah satu yang bisa menjadi segalanya buatku, kecuali menjadi ibuku tentunya karena bagaimana pun surga hanya ada di kaki ibu bukan di kaki orang lain.

Miko yang tiba-tiba bisa membahas laporan keuangan, Miko yang tiba-tiba hapal lagu Bon Jovi, Miko yang tiba-tiba suka sate padang padahal dia seorang Bandung anggota fakultas psikologi yang bersiul Incognito atau Al Jarreau.

——————————————

“Mba’ kalau kereta dua yang mana?”

“Setelah gerbong ini!” seorang kru kereta api menunjuk ke arah gerbong yang bertuliskan ‘Bisnis 1’. Kereta berangkat sekitar 15 menit lagi, hari panas seperti ini sebenarnya tidak cocok menunggu keberangkatan di dalam kereta itu sendiri, panas!

“7A… 7A… 7A… ini dia…”

A window seat! Baru sekali ini aku masuk kereta dan kali ini pula aku tahu bahwa ada huruf-huruf yang menunjukan kita duduk dekat jendela atau aisle seat, di sebelah gang. Begini toh rasanya kereta bisnis, jok hijau besar dengan kipas angin ukuran sedang berjejer memutar-mutarkan kepalanya di langit-langit gerbong, tapi tetap… PANAS!

Kukerahkan tenaga penuh sekarang, yang pertama tadi mungkin kurang tenaga. “Huf… wah.. masih nggak bisa”, aku kecewa, pengalaman pertamaku naik kereta mendapatkan jendela yang rusak, nggak bisa dibuka, sementara untuk mengerahkan tenaga ini saja keringat di keningku sudah sebesar biji jagung apalagi 3 jam kedepan, mungkin ini latihan sebelum aku menginjakkan kaki di Si Panas Jakarta.

“Kalau mau buka jendela, engkolnya yang di atas itu diputar!”

Bukan engkol yang diputar tapi kepalaku yang langsung berputar ke arah suara itu, sebuah wajah dengan senyum yang entah simpati atau sebenarnya mengejek berada tepat di belakangku.

5 detik aku tertegun, yang jelas bukan mengingat apakah aku kenal dengan manusia ini atau mencerna kata-kata dan senyumannya itu tapi yang jelas aku malu dan aku tak tahu warna apa yang ada di wajahku saat ini.

“Sini…!”

Aku mundur..

“Saya nggak bisa, Vit…!”

“Tapi aku khan udah janji kita bakalan dateng Ko!”

“Ya udah pergi aja!”

“Terus dengan siapa? Sendiri?”

“Minta anter sama siapa kek, kamu khan masih banyak temen cowok yang bisa kamu ajak ke kondangan!”

“Ya nggak bisa gitu dong Ko… masa aku dateng sama orang lain, entar gimana?”

“Nggak akan gimana-gimana…”

“Memangnya kenapa ga bisa??”

“Saya udah bikin janji… kenapa nggak bilang dulu? Kok bikin janji dateng ama saya tapi nggak tanya saya dulu!”

————————————————-

Jauh, mungkin kata itu terasa pas sekarang ketika kurasakan hubunganku dengan Miko. Dia masih suka datang sekali seminggu pada waktunya yakni malam minggu. Kedatangannya selalu kusambut dengan hangat dan dia pun datang dengan kehangatan yang selalu ia bawa bila hadir di ruang tamu ini walaupun sesekali ada perselisihan.

Hanya malam minggu..