Google Docs

•9 Desember 2009 • & Komentar

Tergelitik ketika masuk di laman muka Google Documents (Google Docs), ada yang baru sekarang, sebuah video dengan judul yang cukup persuasif: “Google Docs: A Love Letter” sehingga membuatku bertanya-tanya, ada hubungan apa Google Docs dengan sebuah surat cinta?

Google Docs adalah sebuah layanan dari Google Inc. yang memudahkan kita untuk membuat dokumen secara daring (online) dan mengaksesnya dari mana dan kapan pun (selama ada koneksi internet). Tidak hanya itu, Google Docs membuat kita bisa berbagi dokumen yang telah kita buat dengan kolega dan teman-teman kita. Sebuah alat kolaborasi sederhana. Lihat video “Google Docs: A Love Letter” sebagai contoh sederhana.

Google Docs: A Love Letter

Ketika Cinta Bertasbih 2

•7 Oktober 2009 • 1 Komentar

Kali ini tidak ada ‘rasa’ Mesir. Azzam telah kembali ke tanah airnya. Sebenarnya memang tak perlu embel-embel “Asli Mesir” untuk membuat penonton berduyun-duyun datang ke bioskop untuk menonton film ini. Ketika Cinta Bertasbih 2 telah ditunggu sekian juta penggemar, bisa jadi orang-orang itu penggemar fanatik Kang Abiek, penggemar novel Ketika Cinta Bertasbih maupun penggemar film reliji.

Daku bukan salah satunya. Hanya karena daku telah menonton film Ketika Cinta Bertasbih maka sepertinya daku tidak boleh melewatkan sekuelnya. Walaupun untuk film-film yang lain (yang mempunyai sekuel) banyak yang daku lewatkan.

Sesuai dengan komitmen awal produser, sutradara dan seluruh pihak yang telibat maka jelaslah film Ketika Cinta Bertasbih 2 -masih sama dengan Ketika Cinta Bertasbih- berkiblat penuh pada bukunya. Sangat kentara, sangat dirasa bahwa film dan bukunya tidak berbeda. Alur, cerita, penokohan dan yang lainnya. Sehingga ketika bagi sebagian besar dari kita yang telah membaca buku dan kemudian menonton filmnya, tak lain ubahnya seperti melihat visualisasi dari novel Kang Abiek tersebut. Apa boleh buat.

Setidaknya, audio dan juga ilustrasi musik dari sekuel ini sudah lebih baik dari yang pertama. Memang ada yang sedikit mengganggu dalam pengambilan gambar. Ketika adegan kecelakaan, nampak jelas bahwa hujan yang turun merupakan siraman air dari pemadam kebakaran karena beberapa meter sebelum TKP jalan nampak kering kerontang.

Berbicara tentang penokohan, memang Niniek L. Karim dan Jajang C. Noor tidak ada habisnya. Belum lagi Deddy Mizwar. Namun para juniornya belum bisa dikatakan bisa menandingi mereka. Mungkin pujianku (untuk junior) hanya ingin ditujukan pada Oki Setiana Dewi yang menjadi Anna Althafunnisa. Entah karena aktingnya atau karena paras wajahnya :D .

Bagi anda yang belum sempat menonton, silahkan menonton. Setidaknya untuk mengetahui perkembangan film nasional. Bagi yang enggan, daku pun susah untuk meyakinkan kalian untuk menonton film ini tapi apa salahnya.

Selamat menonton!

Konsekuensi

•31 Agustus 2009 • & Komentar

Di pelataran parkir sebuah kantor mereka siap untuk berangkat. Masih ada yang harus mereka bicarakan sebelum mesin dinyalakan. Hidung Azzam tiba-tiba mencium sesuatu, wewangian yang tidak ia suka. Bau apaan sih ini? Kok tiba-tiba ada bau yang aneh di mobil ini.. Azzam tidak sadar bahwa di dashboard-nya terdapat pewangi yang baru saja Ayya taruh. Ia baru menyadarinya ketika tangan Ayya menunjuk sesuatu di dashboard mobilnya.

“Ay.. Ay.. ini khan mobil perang, buat apa yang begituan.. bikin pusing aja..”

Sesaat setelah Azzam berkata, Ayya langsung melemparkan pewangi mobil itu keluar. Lho, kok dibuang Ay? Tanya Azzam keheranan. Dengan tatapannya yang tajam Ayya menjawab..

“Aku siap membuang segala sesuatu yang kamu tidak suka walaupun itu berarti mengorbankan perasaanku, sekarang pertanyaannya adalah: Beranikah kamu membuang apa-apa yang aku tidak suka walaupun itu berarti mengorbankan perasaanmu?”

Daku terhenyak, pertanyaan itu seakan-akan langsung ditujukan padaku. Selama ini selalu ada alasan untuk segala sesuatunya. Apakah daku bisa? Apakah daku mau? Harus bisa, harus mau. Setidaknya dengan alasan yang jelas dan pengertian yang tulus.

Memasuki hidup baru memang tidak selalu berarti harus menghapus hidup yang lama. Masa lalu tidak selalu kelam untuk menapaki masa depan yang cerah. Yang jelas, segala sesuatu yang buruk dan tak berguna memang harus dihapus dan ditinggalkan dalam menyongsong hidup yang akan dijalani.

Jadi, berapa kali seminggu daku boleh ke si Paman? :D

catatan: cerita diambil dari sinetron Para Pencari Tuhan (jilid) 3 yang ditonton kala sahur.

Sang Bintang

•27 Agustus 2009 • & Komentar

Perempuan senang akan sosok yang tangguh, kuat dan bersemangat, entah mengapa (retorik). Makanya seringkali perempuan lebih menyukai sosok matahari yang bersinar di pagi hari sebagai simbol dibanding laki-laki yang lebih menyukai rembulan.

Akan tetapi nampaknya terlalu banyak perempuan yang memakai matahari dan mungkin terlalu spesifik jika mengambil matahari sebagai simbol, perempuan yang satu ini sedang tergila-gila lagu Melody Gardot tentang bintang.

“Tell me star, to whom will you give your love..”

Tapi sang bintang tak dapat menjawab. Hanya berkerlip yang ia bisa. Dari seantero jagat raya, bintang tidak hanya satu. Ia mungkin tidak yakin pertanyaan itu ditujukan pada dirinya. Hanya berkerlip yang ia bisa. Saat ini dan nanti.

Saat bintang mendekat dan menjadi matahari. Dia ‘kan tahu, tatapan itu tertuju padanya. Dia pun ‘kan tahu pertanyaan itu hanya untuknya. Dan segenap cahaya untuk menerangi dunia akan dia beri.

“and the star is you, ganteng..”

Melody Gardot on MySpace
Melody Gardot on Twitter

tulisan yang berhubungan:
..and the star is you, ganteng

Patah Hati

•18 Agustus 2009 • & Komentar

Seorang temanku sekarang sedang patah hati. Merasa dirinya di-nomor-dua-kan membuat dirinya patah arang dan kemudian memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah mereka bina. Dan dia patah hati.

broken_heart

Daku hanya bisa membantu dengan rasa simpati, karena untuk masalah lainnya dia sudah memberi peringatan. Katanya kalau dia patah hati, dia suka melakukan hal-hal yang aneh. Dia bilang kalau dia patah hati mending jangan ketemuan, suka merepotkan. Pingin naik lift lah.. (tapi di atasnya), pingin naik helikopter lah.. Wah, memang. Merepotkan.

Dari cerita zaman dulu, zaman Siti Nurbaya, patah hati nggak butuh modal. Cukup air mata dan melamun yang berkepanjangan. Tapi cobalah lihat zaman ini. Kalau mau patah hati, kita perlu modal. Berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sewa helikopter? Tapi mungkin uang bisa dibilang tidak seberapa, yang lebih susah adalah teman yang mengerti. Atau mungkin mencari teman yang tak peduli?

Ada beberapa dari kita ketika patah hati mencari teman yang mengerti. Namun tak sedikit juga di antara kita ketika patah hati mencari teman yang tak peduli. Yang penting hepi. Dan waktu adalah satu-satunya teman yang menjadi keduanya. Mengerti tapi tak peduli.

gambar: myspace.com