“Kopi Hitam, classic, alamiah.. nggak macem-macem!”
“Uuuhh sama kayak karakter yang minum..”
“Masa sih??”
“Emang kamu nggak ngerasa gitu?”
- Cintapuccino -
Ada satu rasa syukur itu bertambah saat Lebaran, film-film Indonesia bermunculan di TV. Nggak perlu ke bioskop, nggak perlu beli keping cakram video. Dasar nggak mau rugi, setiap jam 10 malam diusahakan sudah ada di rumah, di depan TV. Nonton film nasional.
Flashback, kira-kira awal 2007 ketika film Cintapuccino itu rilis ada temen yang begitu semangatnya bercerita kepadaku. Bercerita tentang Nimo, salah satu karakter yang ada di film itu. Daku menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Saat itu daku tidak tertarik untuk menonton film drama romantis bikinan lokal. “Finding Nimo” dia menyebutkannya dan daku langsung teringat akan ikan badut (clown fish) yang cari-cari anaknya sampai ke Sidney.
Dia hendak menikah, dia meminta opiniku akan pikirannya untuk menyampaikan perasaan yang dipendam dalam perjalanan hidupnya. Dia ingin beberapa orang yang pernah singgah di hatinya tahu, bagaimana perasaan dia pada mereka dahulu dan ia pun ingin mengetahui bagaimana perasaan mereka terhadapnya.
Maafkan kalau daku berkata: “Gila!”, “Kurang ajar!” dan entah apalagi yang sekarang daku sudah lupa. Sekarang daku sudah nonton filmnya.. Sekali lagi maafkan daku kalau berkata: “GILAA!” kalau benar dikau terinspirasi film Cintapuccino itu.







Berkatalah Wahai..